Program Terobosan Kreatif Polresta Yogyakarta


Program Terobosan Kreatif Polresta Yogyakarta yang diluncurkan mulai Bulan Maret tahun 2014 hingga saat ini merupakan bentuk tanggung jawab pelaksanaan tugas yang penuh dengan inovasi untuk mencapai peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat khususnya di wialayah hukum Polresta Yogyakarta. Selain itu Terobosan Kreatif juga untuk pedoman dalam menyamakan langkah dalam pelaksanaan tugas Polri di lapangan sehingga kinerja Polri dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.






  1. SRDP (Satu RW Dua Polisi)
Polrestya Yogyakarta selaku pengemban tugas pemelihara kamtibmas di wilayah Kota Yogyakarta, bertanggung jawab mewujudkan situasi kamtibmas yang kondusif. Situasi kondusif Kota Yogyakarta diharapkan semata-mata bukan merupakan tanggung jawab Polri saja, namun situasi kamtibmas yang kondusif juga harus dibangun dari kebersamaan dengan melibatkan seluruh unsur dan lapisan masyarakat. Berkaitan dengan hal tersebut Polresta Yogyakarta menggunakan pola pendekatan kemitraan yang didukung oleh partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan operasionalnya yaitu membentuk / menugaskan di setiap RW (Rukun Warga)ada 2 (dua) anggota Polri. Diharapkan dengan berjalannya terobosan kreatif SRDP ini akan meminimalisir gangguan kamtibmas.
  1. SSDP (Satu Sekolah Dua Polantas)
SSDPDilatarbelakangi Pengetahuan tentang tata cara berlalu-lintas terutama di kalangan pelajar masih kurang dan kepedulian pihak sekolah tentang penanganan pelanggaran lalu-lintas yang dilakukan oleh para pelajar juga masih kurang sehingga angka pelanggaran lalu-lintas di jalan terutama yang dilakukan pelajar meningkat. Dengan dibentuknya SSDP dari Satlantas Polresta Yogyakarta diharapkan adanya kerjasama antara pihak sekolah dengan Satlantas Polresta Yogyakarta untuk bersama-sama melakukan pembinaan dan penyuluhan lalu-lintas kepada para pelajar yang melakukan pelanggaran berlalu-lintas. Diharapkan dengan berjalannya terobosan kreatif SSDP ini akan menekan angka gangguan kamtibmas terutama yang dilakukan oleh kalangan pelajar Kota Yogyakarta.
  1. BMS (Beri Masyarakat Senyum)
Kota Yogyakarta merupakan pusat aktifitas masyarakat, baik aktifitas bidang ekonomi, sosial budaya, politik dan juga aksi kejahatan. Situasi dan kondisi tersebut sangat rentan terhadap kejiwaan dan fisik anggota Polri khususnya Polresta Yogyakarta dalam pelaksanaan tugas sehingga mudah berperilaku yang kurang baik. Melalui BMS yang mengedepankan penampilan anggota Polri Polresta Yogyakarta dengan senyum pada saat menghadapi tugas, maka diharapkan akan dapat mengalihkan kesan kurang baik ke tindakan yang lebih cerdas dan intelek serta dapat memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat. Karena dengan tersenyum akan dapat mencerminkan penampilan dan figur anggota Polri yang ramah sehingga masyarakat akan merasa dekat dengan Polri karena sikap arogansi ataupun kesan angker pada figur sosok anggota Polri tertutup dengan senyum. Diterapkan di semua fungsi Kepolisian khususnya Polresta Yogyakarta akan mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat secara baik.
  1. TAPS (Traffic Announcer Point System)
Kota Yogyakarta sebagai kota wisata, kota pelajar, dan kota kebudayaan menjadikan pertumbuhan ekonomi, sosial dan budaya berkembang pesat begitu juga dengan pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi serta banyaknya pendatang dari luar kota Yogyakarta. Hal ini tentunya bertambah juga pada permasalahan yang timbul khususnya berkaitan dengan bidang lalu-lintas , seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk, bertambah pula jumlah kendaraan sebagai penunjang kegiatan masyarakat sehari-hari, namun hal ini tidak diimbangi dengan satana dan prasarana jalan karena keterbatasan, khususnya lahan untuk pelebaran jalan dan perluasan jalan, sehingga perlu dilakukan inovasi dan terobosan kreatif guna mengurangi permasalahan tersebut.
  1. PSTI (Pam Simpatik Tempat Ibadah)
Masyarakat Kota Yogyakarta dengan beragam agama yang dianutnya menjadi atensi Polresta Yogyakarta dalam menjaga situasi kamtibmas. Polresta Yogyakarta membuat terobosan kreatif PSTI yaitu menempatkan anggota Polresta Yogyakarta di tempat-tempat ibadah saat berlangsungnya ibadah. Dengan maksud cepat dalam merespon setiap panggilan dan permintaan bantuan dari masyarakat.
  1. PMF (Patroli Multi Fungsi)
Wilayah hukum Polresta Yogyakarta mempunyai spesifikasi sebagai kota perjuangan, kota budaya, kota wisata, dan kota pendidikan. Dari berbagai spesifikasi tersebut tugas Polri di Polresta Yogyakarta tidaklah sederhana karena hampir setiap suku bangsa di Indonesia ada di kota Yogyakarta. Sesuai dengan harapan masyarakat itulah wilayah hukum Polresta Yogyakarta harus selalu aman, nyaman dan kondusif serta masyarakatnya dapat pergi kemana saja tanpa rasa takut. Namun kondisi itu, tidaklah terjadi begitu saja tetapi melalui upaya. Dalam hal ini Polresta Yogyakarta membuat inovasi yang bersifat preventif khususnya patroli yang dijadikan terobosan kreatif yaitu PMF yang dilaksanakan dengan patroli dialogis, Patroli Beat (Beat 1,2,3 dan 4) dan Patroli Singgung (titik singgung yang telah ditentukan). Diharapkan dengan terobosan PMF ini, pelayanan masyarakat akan lebih cepat dan masyarakat merasa lebih aman, nyaman dan terlindungi.  

BIDANG PEMBINAAN
  1. Ikrar Tahanan, Mars Tahanan, Tobat Tahanan, Pengajian Rutin Dan Shalat Ied di rutan Polresta Yogyakarta.
BINROH TAHANANTahanan Polresta Yogyakarta perlu diberi semangat dorongan mental untuk menjadi manusia yang lebih baik dan lebih vberguna serta menyadari akan perbuatan yang dilakukannya adalah perbuatan dosa dan dilarang oleh agama serta negara. Untuk itu perlu dibuat motivasi-motivasi supaya para tahanan tidak mengulangi kembali perbuatannya dan juga supaya tidak mengalami stress ataupun bunuh diri. Motivasi tersebut diwujudkan dalam bentuk Ikrar tahanan, Tobat Tahanan, Banner –banner yang bertuliskan motivasi.
  1. POPKEMA (Polresta Peduli Kedukaan Masyarakat)
POPKEMASejalan dengan tuntutan reformasi yang berdampak kepada perubahan kehidupan, Polri khususnya Polresta Yogyakarta perlu menjalin hubungan dekat dengan masyararakat guna mewujudkan situasi kamtibmas yang kondusig antara lain dengan cara memberi pelayanan terhadap masyarakat yang mendapat musibah atas meninggal anggota keluarganya, melaksanakan kegiatan pengamanan dan pengawalan jenazah sampai ke tempat tujuan/ makam sehingga diharapkan masyarakat dapat merespon secara positif tentang tugas-tugas Polri khususnya Polresta Yogyakarta.
  1. PDD (Polresta Dalam Doa)
PDDKehadiran anggota Polri khususnya Polresta Yogyakarta belum sepenuhnya sesuai dengan harapan masyarakat sehingga perlu peningkatan menuju Polri yang profesional, proporsional, akuntabel, bermoral, dan modern yang dapat dirasakan keberadaanya di tengah-tengah masyarakatmelalui pelayanan secara mudah, cepat, responsif, tidak diskriminatif dan berresiko tinggi. Dalam mewujudkan hal tersebut diatas, terutama dalam menumbuhkan Polri yang bermoral, polresta Yogyakarta membuat inovasi-inovasi berupa terobosan kreatif di bidang kegiatan keagamaan, baik agama Islam, Kristen Protestan, Katholik, Hindu dan Budha sehingga dalam menghadapi tugas yang berresiko besar dapat dilaksanakan dengan optimis, percaya diri dan mantap serta dapat menghindari perbuatan-perbuatan yang bersifat pelanggaran karena telah dibekali dengan pembinaan rohani dan juga doa setiap hari yang dilaksanakan di Polresta Yogyakarta dan Polsek Jajaran.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel