Ribuan warga memadati
kompleks Puro Pakualaman untuk mengikuti prosesi Grebeg Syawal 1447 H sebagai
bagian dari rangkaian perayaan Idulfitri, Jumat pagi (20/03/2026). Pengamanan
jalannya tradisi tahunan ini dipimpin langsung oleh Kapolsek Pakualaman, AKP
Margono, S.H., M.A.P., dengan melibatkan personel gabungan dari Polresta
Yogyakarta, Polsek Pakualaman, serta instansi terkait.
Kegiatan yang merupakan
kolaborasi antara Keraton Yogyakarta dan Puro Pakualaman ini dimulai pukul
11.00 WIB, setelah gunungan melalui serangkaian prosesi adat dari Bangsal
Pancaniti menuju Masjid Gedhe untuk didoakan.
Iring-iringan gunungan
merupakan inti dari upacara Garebeg Syawal, yang melambangkan wujud sedekah
raja kepada rakyatnya. Gunungan yang berisi berbagai hasil bumi tersebut dibawa
menuju Puro Pakualaman setelah sebelumnya menuruni Siti Hinggil menuju
Pagelaran pada pukul 09.00 WIB.
Selain menuju Puro
Pakualaman, sebagian gunungan lainnya juga didistribusikan ke Kompleks
Kepatihan dan Ndalem Mangkubumen. Bagi masyarakat Yogyakarta, memperebutkan isi
gunungan yang telah didoakan merupakan simbol perolehan berkah serta harapan
akan kesejahteraan dan kemakmuran di tahun yang baru.
Mengingat antusiasme
masyarakat yang sangat tinggi untuk "ngalap berkah" atau
memperebutkan gunungan, Polsek Pakualaman melakukan penyekatan dan pengaturan
di titik-titik masuk Puro. Petugas memastikan agar prosesi serah terima
gunungan dari utusan Keraton Yogyakarta kepada pihak Puro Pakualaman berjalan
lancar sebelum akhirnya dibagikan kepada warga.
Kapolsek Pakualaman, AKP
Margono, menjelaskan bahwa fokus pengamanan adalah mencegah terjadinya
kericuhan atau penumpukan massa yang berlebihan saat warga mulai berebut hasil
bumi.
"Kami menempatkan
personel gabungan di area pelataran hingga pintu masuk utama Puro Pakualaman.
Tujuannya adalah memberikan rasa aman bagi warga dan memastikan prosesi adat
tetap terjaga kesakralannya. Meskipun suasana sangat ramai, masyarakat
terpantau tertib mengikuti arahan petugas di lapangan," ujar AKP Margono.
Tradisi Grebeg Syawal 1447 H
ini tidak hanya menjadi simbol ketaatan agama dan budaya, tetapi juga
mempererat hubungan antara pihak istana dengan masyarakat luas. Rangkaian acara
ditutup dengan pembersihan sisa-sisa prosesi dan normalisasi arus lalu lintas
di sekitar Jalan Sultan Agung Yogyakarta. (Humas Polsek Pakualaman)


No comments:
Write comment