Judi kerap hadir dengan wajah menipu. Ia menjanjikan
kemenangan instan, kemewahan tanpa kerja keras, serta jalan pintas menuju
kebahagiaan. Namun di balik kilau harapan palsu itu, judi menyimpan rangkaian
sebab dan akibat yang perlahan tetapi pasti menghancurkan kehidupan pelakunya.
Seseorang biasanya terjerumus ke dalam judi karena rasa
penasaran, tekanan ekonomi, atau keinginan untuk cepat kaya. Awalnya hanya
taruhan kecil dan coba-coba. Namun judi sejatinya tidak dirancang untuk memberi
kemenangan, melainkan untuk menjerat. Kekalahan memicu keinginan balas modal,
sementara kemenangan melahirkan nafsu untuk terus bermain. Dari sinilah
lingkaran setan judi bermula.
Dampaknya tidak berhenti pada kerugian finansial. Judi
merambat ke ranah sosial, psikologis, dan moral. Kejujuran terkikis, akal sehat
menumpul, dan rasa tanggung jawab memudar. Demi mengejar kemenangan semu,
pelaku judi rela berbohong, berutang, bahkan mengorbankan keluarga. Rumah
tangga retak, kepercayaan hilang, dan masa depan anak-anak ikut terancam.
Pesan inilah yang dengan tegas disampaikan Rhoma Irama
melalui lagu legendarisnya, “Judi”. Dengan lirik yang lugas, ia menggambarkan
judi sebagai penyakit masyarakat yang membawa kehancuran. Judi bukan jalan
keluar dari kemiskinan, melainkan pintu menuju kesengsaraan. Kalimat “judi kan
merusak moral bangsa” menegaskan bahwa dampaknya tidak hanya bersifat pribadi,
tetapi juga merusak tatanan sosial.
Narasi lagu tersebut menunjukkan bagaimana harapan palsu
membuat manusia kehilangan kendali. Judi hanyalah kesenangan sesaat yang
berujung penyesalan panjang. Pesan ini kian relevan di era sekarang, ketika
judi online semakin mudah diakses, cepat, dan sulit dikendalikan. Teknologi
yang seharusnya mempermudah hidup justru menjadi alat baru penyebaran jerat
perjudian.
Pada akhirnya, judi selalu menjual mimpi tetapi
meninggalkan luka. Ia menjanjikan kemenangan, namun lebih sering menghadirkan
kekalahan bukan hanya uang, melainkan juga harga diri, keluarga, dan masa
depan. Seperti pesan moral dalam lagu Rhoma Irama, jalan hidup yang benar
bukanlah melalui spekulasi dan taruhan, melainkan melalui kerja keras,
kejujuran, dan kesabaran.
Narasi ini menjadi pengingat bahwa menjauhi judi bukan
sekadar pilihan pribadi, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri,
keluarga, dan masyarakat. (Magang)


No comments:
Write comment