Mantrijeron Yogyakarta - Kapolsek Mantrijeron AKP
Mukiyanto, S.Sos., beserta anggotanya menghadiri sekaligus mengamankan kegiatan
“Srawung Warga Jogja” yang diselenggarakan di Masjid Jogokaryan, Minggu
(19/04/2026) pukul 08.00 WIB.
Kegiatan yang digelar oleh Forum Ukhuwah Islamiyah DIY
ini mengusung semangat silaturahmi dan ukhuwah Islamiyah, dengan penanggung
jawab saudara M. Akhid Subiyanto selaku Ketua Teras Dakwah/FUI DIY. Acara
diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari organisasi kepemudaan,
komunitas dakwah, santri, hingga aktivis kemanusiaan.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Wali Kota
Yogyakarta Hasto Wardoyo, para tokoh agama, unsur Forkopimtren, serta
perwakilan organisasi keislaman di wilayah DIY.
Rangkaian kegiatan diawali dengan menyanyikan Lagu
Kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan pembukaan, ceramah dari sejumlah tokoh
dan dai, hingga penutup dan salat Dzuhur berjamaah. Dalam setiap sesi ceramah,
para narasumber menekankan perlunya menjaga ukhuwah, memperkuat keimanan, serta
peran generasi muda dalam membangun masyarakat yang harmonis dan berakhlak.
Dalam sambutannya, Wali Kota Yogyakarta menegaskan bahwa
Kota Yogyakarta tidak memiliki sumber daya alam yang melimpah. Sebaliknya,
lebih dari 95 persen kekuatan kota ini bertumpu pada kualitas SDM. Oleh karena
itu, kemajuan kota sangat ditentukan oleh kreativitas, moral, mental, dan
akhlak masyarakatnya.
“Kalau sumber daya manusianya kreatif, bermoral, dan
berakhlak baik, insya Allah kita bisa maju. Tapi kalau tidak, akan sulit untuk
berkembang,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa para leluhur telah memberikan pesan
penting melalui semangat “bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”. Menurutnya,
pembangunan tidak cukup hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi harus dimulai
dari pembentukan jiwa dan karakter.
Hasto juga memaparkan capaian pemerintah dalam menurunkan
angka stunting. Ia menyebut, angka stunting nasional yang sebelumnya berada di
kisaran 28 persen kini turun menjadi sekitar 16 persen, sementara di Kota
Yogyakarta telah mencapai 8 persen. Namun demikian, ia mengingatkan adanya
tantangan lain yang tidak kalah serius, yakni peningkatan gangguan mental
emosional.
“Sekarang ini, stunting turun, tapi gangguan mental
meningkat. Angkanya naik dari 6,1 persen menjadi 9,8 persen. Ini harus menjadi
perhatian serius,” tegasnya.
Ia menjelaskan berbagai bentuk gangguan mental yang kerap
muncul di masyarakat, seperti sikap sombong, tidak mau menerima pendapat orang
lain, hingga fenomena “I know syndrome” atau merasa paling tahu. Bahkan, ia
menyebut kondisi tersebut dapat berkembang menjadi perilaku toksik yang
menghambat terciptanya lingkungan sosial yang sehat.
Selain itu, Hasto menyoroti tingginya angka perceraian
yang dipicu oleh kondisi mental dan tekanan dalam keluarga. Ia menekankan
pentingnya peran kepala keluarga, khususnya laki-laki, dalam menjaga
keharmonisan rumah tangga.
“Sebagian besar pengajuan perceraian berasal dari pihak
perempuan. Ini menjadi refleksi bahwa peran laki-laki sebagai pemimpin keluarga
perlu diperkuat,” katanya.
Melalui forum seperti Srawung Warga Jogja, Hasto berharap
terbangun ruang dialog dan silaturahmi yang mampu memperkuat nilai-nilai akhlak
di tengah masyarakat. Ia meyakini, perbaikan moral akan berdampak langsung pada
kemajuan SDM dan kesejahteraan kota.
Di akhir pemaparannya, Hasto juga menyinggung kebijakan
Pemerintah Kota Yogyakarta terkait pelarangan minuman beralkohol (mihol). Ia
menyampaikan bahwa Peraturan Daerah (Perda) terkait hal tersebut telah rampung
dan akan segera disosialisasikan.
Menurutnya, konsumsi alkohol tidak hanya bertentangan
dengan nilai sosial dan agama, tetapi juga berdampak serius terhadap kesehatan,
khususnya organ hati. Oleh karena itu, kebijakan ini diharapkan dapat
melindungi masyarakat dari dampak negatif alkohol.
“Ini bagian dari ikhtiar kita menjaga kesehatan dan moral
masyarakat Kota Yogyakarta,” pungkasnya.
Sementara itu, para tokoh agama dalam tausiyahnya
mengajak masyarakat untuk memperkuat nilai tauhid, menjaga persatuan, serta
mengedepankan semangat kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. Konsep “aku,
kami, dan kita” juga disampaikan sebagai refleksi dalam membangun tanggung
jawab sosial yang lebih luas.
Kapolsek Mantrijeron AKP Mukiyanto menyampaikan bahwa
kehadiran Polri dalam kegiatan ini merupakan bentuk dukungan terhadap kegiatan
masyarakat yang positif sekaligus upaya menjaga situasi kamtibmas tetap aman
dan kondusif.
“Polri siap hadir dalam setiap kegiatan masyarakat
sebagai bentuk pelayanan dan pengamanan, guna memastikan seluruh rangkaian
kegiatan berjalan dengan aman, tertib, dan lancar,” ujarnya.
Selama kegiatan berlangsung, situasi terpantau aman,
tertib, dan kondusif. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi,
tetapi juga sarana memperkuat persatuan serta meningkatkan kesadaran masyarakat
dalam menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah Kota Yogyakarta. (Humas Polsek
Mantrijeron)


No comments:
Write comment