Monday, 20 April 2026

Perkuat Ukhuwah dan Karakter SDM, Polsek Mantrijeron Amankan Kegiatan "Srawung Warga Jogja" di Masjid Jogokaryan

 


Mantrijeron Yogyakarta - Kapolsek Mantrijeron AKP Mukiyanto, S.Sos., beserta anggotanya menghadiri sekaligus mengamankan kegiatan “Srawung Warga Jogja” yang diselenggarakan di Masjid Jogokaryan, Minggu (19/04/2026) pukul 08.00 WIB.

 

Kegiatan yang digelar oleh Forum Ukhuwah Islamiyah DIY ini mengusung semangat silaturahmi dan ukhuwah Islamiyah, dengan penanggung jawab saudara M. Akhid Subiyanto selaku Ketua Teras Dakwah/FUI DIY. Acara diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari organisasi kepemudaan, komunitas dakwah, santri, hingga aktivis kemanusiaan.

 

Turut hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, para tokoh agama, unsur Forkopimtren, serta perwakilan organisasi keislaman di wilayah DIY.

 

Rangkaian kegiatan diawali dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan pembukaan, ceramah dari sejumlah tokoh dan dai, hingga penutup dan salat Dzuhur berjamaah. Dalam setiap sesi ceramah, para narasumber menekankan perlunya menjaga ukhuwah, memperkuat keimanan, serta peran generasi muda dalam membangun masyarakat yang harmonis dan berakhlak.

 

Dalam sambutannya, Wali Kota Yogyakarta menegaskan bahwa Kota Yogyakarta tidak memiliki sumber daya alam yang melimpah. Sebaliknya, lebih dari 95 persen kekuatan kota ini bertumpu pada kualitas SDM. Oleh karena itu, kemajuan kota sangat ditentukan oleh kreativitas, moral, mental, dan akhlak masyarakatnya.

 

“Kalau sumber daya manusianya kreatif, bermoral, dan berakhlak baik, insya Allah kita bisa maju. Tapi kalau tidak, akan sulit untuk berkembang,” ujarnya.

 

Ia mengingatkan bahwa para leluhur telah memberikan pesan penting melalui semangat “bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”. Menurutnya, pembangunan tidak cukup hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi harus dimulai dari pembentukan jiwa dan karakter.

 

Hasto juga memaparkan capaian pemerintah dalam menurunkan angka stunting. Ia menyebut, angka stunting nasional yang sebelumnya berada di kisaran 28 persen kini turun menjadi sekitar 16 persen, sementara di Kota Yogyakarta telah mencapai 8 persen. Namun demikian, ia mengingatkan adanya tantangan lain yang tidak kalah serius, yakni peningkatan gangguan mental emosional.

 

“Sekarang ini, stunting turun, tapi gangguan mental meningkat. Angkanya naik dari 6,1 persen menjadi 9,8 persen. Ini harus menjadi perhatian serius,” tegasnya.

 

Ia menjelaskan berbagai bentuk gangguan mental yang kerap muncul di masyarakat, seperti sikap sombong, tidak mau menerima pendapat orang lain, hingga fenomena “I know syndrome” atau merasa paling tahu. Bahkan, ia menyebut kondisi tersebut dapat berkembang menjadi perilaku toksik yang menghambat terciptanya lingkungan sosial yang sehat.

 

Selain itu, Hasto menyoroti tingginya angka perceraian yang dipicu oleh kondisi mental dan tekanan dalam keluarga. Ia menekankan pentingnya peran kepala keluarga, khususnya laki-laki, dalam menjaga keharmonisan rumah tangga.

 

“Sebagian besar pengajuan perceraian berasal dari pihak perempuan. Ini menjadi refleksi bahwa peran laki-laki sebagai pemimpin keluarga perlu diperkuat,” katanya.

 

Melalui forum seperti Srawung Warga Jogja, Hasto berharap terbangun ruang dialog dan silaturahmi yang mampu memperkuat nilai-nilai akhlak di tengah masyarakat. Ia meyakini, perbaikan moral akan berdampak langsung pada kemajuan SDM dan kesejahteraan kota.

 

Di akhir pemaparannya, Hasto juga menyinggung kebijakan Pemerintah Kota Yogyakarta terkait pelarangan minuman beralkohol (mihol). Ia menyampaikan bahwa Peraturan Daerah (Perda) terkait hal tersebut telah rampung dan akan segera disosialisasikan.

 

Menurutnya, konsumsi alkohol tidak hanya bertentangan dengan nilai sosial dan agama, tetapi juga berdampak serius terhadap kesehatan, khususnya organ hati. Oleh karena itu, kebijakan ini diharapkan dapat melindungi masyarakat dari dampak negatif alkohol.

 

“Ini bagian dari ikhtiar kita menjaga kesehatan dan moral masyarakat Kota Yogyakarta,” pungkasnya.

 

Sementara itu, para tokoh agama dalam tausiyahnya mengajak masyarakat untuk memperkuat nilai tauhid, menjaga persatuan, serta mengedepankan semangat kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. Konsep “aku, kami, dan kita” juga disampaikan sebagai refleksi dalam membangun tanggung jawab sosial yang lebih luas.

 

Kapolsek Mantrijeron AKP Mukiyanto menyampaikan bahwa kehadiran Polri dalam kegiatan ini merupakan bentuk dukungan terhadap kegiatan masyarakat yang positif sekaligus upaya menjaga situasi kamtibmas tetap aman dan kondusif.

 

“Polri siap hadir dalam setiap kegiatan masyarakat sebagai bentuk pelayanan dan pengamanan, guna memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan aman, tertib, dan lancar,” ujarnya.

 

Selama kegiatan berlangsung, situasi terpantau aman, tertib, dan kondusif. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga sarana memperkuat persatuan serta meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah Kota Yogyakarta. (Humas Polsek Mantrijeron)

Show comments
Hide comments
No comments:
Write comment

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Banner Home

Latest News

Layanan Aduan

Polresta Yogyakarta 
(0274-543920)  
Polsek Gondomanan  
(0274-375376) 
Polsek Wirobrajan 
(0274-374832)
Polsek Pakualaman 
(0274-513178)
Polsek Kotagede 
(0274-374577)
Polsek Umbulharjo 
(0274-373916)
Polsek Gedongtengen 
(0274-512696)
Polsek Kraton 
(0274-373793)
Polsek Jetis 
(0274-513136)
Polsek Tegalrejo 
(0274-513877)
Polsek Ngampilan 
(0274-512185)
Polsek Gondokusuman 
(0274-513125)
Polsek Mantrijeron 
(0274-374167)
Polsek Mergangsan 
(0274-375138)
Polsek Danurejan 
(0274-589609) 
 
Back to Top